Buku Epik Airlangga- MAHAPRALAYA

Sekian lama saya mencoba membuat sebuah tulisan bergenre Silat, setelah beberapa waktu tulisan ini saya simpan dan masukkan ke kotak karena tidak ada penerbit yang mau menerbitkan hanya karena saya adalah penulis pemula.

sedih rasanya saat menerima surat penolakan dan naskah karya saya waktu itu di kembalikan. Namun beberapa waktu yang lalu tiba-tiba seorang sahabat saya waktu kecil yang kebetulan juga adalah penulis dan penerbit buku online, saya memberanikan diri menawarkan karya perdana saya itu.

Dan alhasil, di respon dengan sangat baik olehnya dan bi terbitkanlah dalam bentuk ebook oleh AWB. so.. buku perdana saya akhirnya lahir juga.

setelah buku tersebut lahir dalam bentuk ebook ternyata banyak rekan-rekan yang ingin memiliki buku tersebut dalam bentuk cetak, nah kali ini saya bersama dengan Diandracreative untuk menerbitkannya dalam POD.

Buku epik ini merupakan Trilogi Epik Airlangga, setelah munculnya buku bertajuk MAHAPRALAYA ini , nanti akan saya terbitkan cerita lanjutannya dengan masih tetap bergenre silat sejarah dengan judul KAHURIPAN  serta KADIRI DAN JENGGALA, semoga saya tetap di beri kesehatan dalam menyelesaikan buku tersebut

dan semoga dapat menjadi pelipurlara bagi peminat cerita bergenre silat di tanah air.

untuk ebook anda bisa dapatkan di Google playstore dengan ketik edhivirgi, sedang yang dalam cetak anda bisa pesan ke kami dan akan kami kirim.

Trimakasih.

Advertisements

KAKAWIN ARJUNAWIWAHA

Kakawin Arjunawiwāha

Kakawin Arjunawiwāha adalah kakawin pertama yang berasal dari Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh mpu Kanwa pada masa pemerintahan prabu Airlangga, yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 1019 sampai dengan 1042 Masehi. Sedangkan kakawin ini diperkirakan digubah sekitar tahun 1030.

Kakawin ini menceritakan sang Arjuna ketika ia bertapa di gunung Mahameru. Lalu ia dicobai oleh para Dewa, dengan dikiriminya tujuh bidadari. Bidadari ini disuruh menggodanya. Nama bidadari yang terkenal adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Para bidadari tidak berhasil menggoda Arjuna, maka batara Indra datang sendiri menyamar menjadi seorang brahmana tua. Mereka berdiskusi soal agama dan Indra menyatakan jati dirinya dan pergi. Lalu setelah itu ada seekor babi yang datang mengamuk dan Arjuna memanahnya. Tetapi pada saat yang bersamaan ada seorang pemburu tua yang datang dan juga memanahnya. Ternyata pemburu ini adalah batara Siwa. Setelah itu Arjuna diberi tugas untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Arjuna berhasil dalam tugasnya dan diberi anugerah boleh mengawini tujuh bidadari ini.

Oleh para pakar ditengarai bahwa kakawin Arjunawiwaha berdasarkan Wanaparwa, kitab ketiga Mahābharata.

Niwātakawaca, seorang raksasa (daitya) mempersiapkan diri untuk menyerang dan menghancurkan kahyangan batara Indra. Karena raksasa itu tak dapat dikalahkan, baik oleh seorang dewa maupun oleh seorang raksasa, maka batara Indra memutuskan untuk meminta bantuan dari seorang manusia. Pilihan tidak sukar dan jatuh pada sang Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakīla. Namun sebelum Arjuna diminta bantuannya, terlebih dahulu harus diuji ketabahannya dalam melakukan yoga, karena ini juga merupakan jaminan agar bantuannya benar-benar membawa hasil seperti yang diharapkan.

Maka tujuh orang bidadari yang kecantikannya sungguh menakjubkan dipanggil. Kedua bidadari yang terpenting bernama Suprabhā dan Tilottamā, mereka semua diperintahkan untuk mengunjungi Arjuna lalu mempergunakan kecantikan mereka untuk merayunya.

Maka berjalanlah para bidadari melalui keindahan alam di gunung Indrakīla menuju tempat bertapanya sang Arjuna. Mereka beristirahat di sebuah sungai lalu menghias diri dan membicarakan bagaimana cara terbaik untuk mencapai tujuan mereka.

Mereka sampai pada gua tempat Arjuna duduk, terserap oleh samadi, lalu memperlihatkan segala kecantikan mereka dan mempergunakan segala akal yang dapat mereka pikirkan guna menggodanya, tetapi sia-sia belaka. Dengan rasa kecewa mereka pulang ke kahyangan dan melapor kepada batara Indra. Namun bagi para dewa kegagalan mereka merupakan suatu sumber kegembiraan, karena dengan demikian terbuktilah kesaktian Arjuna.

Tertinggallah hanya satu hal yang masih disangsikan: apakah tujuan Arjuna dengan mengadakan yoga semata-mata untuk memperoleh kebahagiaan dan kekuasaan bagi dirinya sendiri, sehingga ia tidak menghiraukan keselamatan orang lain? Maka supaya dalam hal yang demikian penting itu dapat diperoleh kepastian, Indra sendiri yang menjenguk Arjuna dengan menyamar sebagai seorang resi tua yang telah pikun dan bungkuk. Sang resi tua ini berpura-pura batuk dan lalu disambut dengan penuh hormat oleh sang Arjuna yang sebentar menghentikan tapanya dan dalam diskusi falsafi yang menyusul terpaparlah suatu uraian mengenai kekuasaan dan kenikmatan dalam makna yang sejati. Dalam segala wujudnya, termasuk kebahagiaan di sorga, kekuasaan dan nikmat termasuk dunia semu dan ilusi; karena hanya bersifat sementara dan tidak mutlak, maka tetap jauh dari Yang Mutlak. Barangsiapa ingin mencapai kesempurnaan dan moksa, harus menerobos dunia wujud dan bayang-bayang yang menyesatkan, jangan sampai terbelenggu olehnya. Hal seperti ini dimengerti oleh Arjuna. Ia menegaskan, bahwa satu-satunya tujuannya dalam melakukan tapa brata ialah memenuhi kewajibannya selaku seorang ksatria serta membantu kakaknya Yudistira untuk merebut kembali kerajaannya demi kesejahteraan seluruh dunia. Indra merasa puas, mengungkapkan siapakah dia sebenarnya dan meramalkan, bahwa batara Siwa akan berkenan kepada Arjuna, lalu pulang. Arjuna meneruskan tapa-bratanya.

Dalam pada itu raja para raksasa telah mendengar berita apa yang terjadi di gunung Indrakila. Ia mengutus seorang raksasa lain yang bernama Mūka untuk membunuh Arjuna. Dalam wujud seekor babi hutan ia mengacaukan hutan-hutan di sekitarnya. Arjuna, terkejut oleh segala hiruk-pikuk, mengangkat senjatanya dan keluar dari guanya. Pada saat yang sama dewa Siwa, yang telah mendengar bagaimana Arjuna melakukan yoga dengan baik sekali tiba dalam wujud seorang pemburu dari salah satu suku terasing, yaitu suku Kirāṭa. Pada saat yang sama masing-masing melepaskan panah dan babi hutan tewas karena lukanya. Kedua anak panah ternyata menjadi satu. Terjadilah perselisihan antara Arjuna dan orang Kirāṭa itu, siapa yang telah membunuh binatang itu. Perselisihan memuncak menjadi perdebatan sengit. Panah-panah Siwa yang penuh sakti itu semuanya ditanggalkan kekuatannya dan akhirnya busurnya pun dihancurkan. Mereka lalu mulai berkelahi. Arjuna yang hampir kalah, memegang kaki lawannya, tetapi pada saat itu wujud si pemburu lenyap dan Siwa menampakkan diri.

Batara Siwa bersemayam selaku ardhanarīśwara ‘setengah pria, setengah wanita’ di atas bunga padma. Arjuna memujanya dengan suatu madah pujian dan yang mengungkapkan pengakuannya terhadap Siwa yang hadir dalam segala sesuatu. Siwa menghadiahkan kepada Arjuna sepucuk panah yang kesaktiannya tak dapat dipatahkan; namanya Pasupati. Sekaligus diberikan kepadanya pengetahuan gaib bagaimana mempergunakan panah itu. Sesudah itu Siwa lenyap.

Tengah Arjuna memperbincangkan, apakah sebaiknya ia kembali ke sanak saudaranya, datanglah dua apsara ‘makhluk setengah dewa setengah manusia’, membawa sepucuk surat dari Indra; ia minta agar Arjuna bersedia menghadap, membantu para dewa dalam rencana mereka untuk membunuh Niwatakawaca. Arjuna merasa ragu-ragu, karena ini berarti bahwa ia lebih lama lagi terpisah dari saudara-saudaranya, tetapi akhirnya ia setuju. Ia mengenakan sebuah kemeja ajaib bersama sepasang sandal yang dibawa oleh kedua apsara, dan lewat udara menemai mereka ke kahyangan batara Indra. Ia disambut dengan riang gembira dan para bidadari merasa tergila-gila. Indra menerangkan keadaan yang tidak begitu menguntungkan bagi para dewa akibat niat jahat Niwatakawaca. Raksasa itu hanya dapat ditewaskan oleh seorang manusia, tetapi terlebih dahulu mereka harus menemukan titik lemahnya. Sang bidadari Suprabha yang sudah lama diincar oleh raksasa itu, akan mengunjunginya dan akan berusaha untuk mengatahui rahasianya dengan ditemani oleh Arjuna. Arjuna menerima tugas itu dan mereka turun ke bumi. Suprabha pura-pura malu karena hubungan mereka nampak begitu akrab, akibat tugas yang dibebankan kepada mereka. Dalam kepolosannya Suprabha tidak menghiraukan kata-kata manis Arjuna dan berusaha membelokkan percakapan mereka ke hal-hal lain. Waktu sore hari mereka sampai ke tempat kediaman si raja raksasa; di sana tengah diadakan persiapan-persiapan perang melawan para dewata. Sang Suprabha, sambil membayangkan bagaimana ia akan diperlakukan oleh Niwatakawaca, merasa tidak berani melaksanakan apa yang ditugaskan kepadanya, tetapi ia diberi semangat oleh Arjuna. Ia pasti akan berhasil asal ia mempergunakan segala rayuan seperti yang diperlihatkan ketika Arjuna sedang bertapa di dalam gua, biarpun pada waktu itu tidak membuahkan hasil. Suprabha menuju sebuah sanggar mestika (balai kristal murni), di tengah-tengah halaman istana. Sementara itu Arjuna menyusul dari dekat. Namun Arjuna memiliki aji supaya ia tidak dapat dilihat orang. Itulah sebabnya mengapa para dayang-dayang yang sedang bercengkerama di bawah sinar bulan purnama, hanya melihat Suprabha. Beberapa dayang-dayang yang dulu diboyong ke mari dari istana Indra, mengenalinya dan menyambutnya dengan gembira sambil menanyakan bagaimana keadaan di kahyangan. Suprabha menceritakan, bagaimana ia meninggalkan kahyangan atas kemauannya sendiri, karena tahu bahwa itu akan dihancurkan; sebelum ia bersama dengan segala barang rampasan ditawan, ia menyeberang ke Niwatakawaca. Dua orang dayang-dayang menghadap raja dan membawa berita yang sudah sekian lama dirindukannya. Seketika ia bangun dan menuju ke taman sari. Niwatakawaca pun menimang dan memangku sang Suprabha. Suprabha menolak segala desakannya yang penuh nafsu birahi dan memohon agar sang raja bersabar sampai fajar menyingsing. Ia merayunya sambil memuji-muji kekuatan raja yang tak terkalahkan itu, lalu bertanya tapa macam apa yang mengakibatkan ia dianugerahi kesaktian yang luar biasa oleh Rudra. Niwatakawaca terjebak oleh bujukan Suprabha dan membeberkan rahasianya. Ujung lidahnya merupakan tempat kesaktiannya. Ketika Arjuna mendengar itu ia meninggalkan tempat persembunyiannya dan menghancurkan gapura istana. Niwatakawaca terkejut oleh kegaduhan yang dahsyat itu; Suprabha mempergunakan saat itu dan melarikan diri bersama Arjuna.

Meluaplah angkara murka sang raja yang menyadari bahwa ia telah tertipu; ia memerintahkan pasukan-pasukannya agar seketika berangkat dan berbaris melawan para dewa-dewa. Kahyangan diliputi suasana gembira karena Arjuna dan Suprabha telah pulang dengan selamat. Dalam suatu rapat umum oleh para dewa diperbincangkan taktik untuk memukul mundur si musuh, tetapi hanya Indra dan Arjuna yang mengetahui senjata apa telah mereka miliki karena ucapan Niwatakawaca yang kurang hati-hati. Bala tentara para dewa, apsara dan gandharwa menuju ke medan pertempuran di lereng selatan pegunungan Himalaya.

Menyusullah pertempuran sengit yang tidak menentu, sampai Niwatakawaca terjun ke medan laga dan mencerai-beraikan barisan para dewa yang dengan rasa malu terpaksa mundur. Arjuna yang bertempur di belakang barisan tentara yang sedang mundur, berusaha menarik perhatian Niwatakawaca. Pura-pura ia terhanyut oleh tentara yang lari terbirit-birit, tetapi busur telah disiapkannya. Ketika raja para raksasa mulai mengejarnya dan berteriak-teriak dengan amarahnya, Arjuna menarik busurnya, anak panah melesat masuk ke mulut sang raja dan menembus ujung lidahnya. Ia jatuh tersungkur dan mati. Para raksasa melarikan diri atau dibunuh, dan para dewa yang semula mengundurkan diri, kini kembali sebagai pemenang. Mereka yang tewas dihidupkan dengan air amrta dan semua pulang ke sorga. Di sana para istri menunggu kedatangan mereka dengan rasa was-was jangan-jangan suami mereka lebih suka kepada wanita-wanita yang ditawan, ketika mereka merampas harta para musuh. Inilah satu-satunya awan yang meredupkan kegembiraan mereka.

Kini Arjuna menerima penghargaan bagi bantuannya. Selama tujuh hari (menurut perhitungan di sorga, dan ini sama lama dengan tujuh bulan di bumi manusia) ia akan menikmati buah hasil dari kelakuannya yang penuh kejantanan itu: ia akan bersemayam bagaikan seorang raja di atas singgasana Indra. Setelah ia dinobatkan, menyusullah upacara pernikahan sampai tujuh kali dengan ketujuh bidadari. Satu per satu, dengan diantar oleh Menaka, mereka memasuki ruang mempelai. Yang pertama datang ialah Suprabha, sesudah perjalanan mereka yang penuh bahaya, dialah yang mempunyai hak pertama. Kemudian Tilottama lalu ke lima yang lain, satu per satu; nama mereka tidak disebut. Hari berganti hari dan Arjuna mulai menjadi gelisah. Ia rindu akan sanak saudaranya yang ditinggalkannya. Ia mengurung diri dalam sebuah balai di taman dan mencoba menyalurkan perasaannya lewat sebuah syair. Hal ini tidak luput dari perhatian Menaka dan Tilottama. Yang terakhir ini berdiri di balik sebatang pohon dan mendengar, bagaimana Arjuna menemui kesukaran dalam menggubah baris penutup bait kedua. Tilottama lalu menamatkannya dengan sebuah baris yang lucu. Maka setelah tujuh bulan itu sudah lewat, Arjuna berpamit kepada Indra; ia diantar kembali ke bumi oleh Matali dengan sebuah kereta sorgawi. Kakawin ini ditutup dengan keluh kesah para bidadari yang ditinggalkan di sorga dan sebuah kolofon mpu Kanwa.

Manggala

Kakawin Arjunawiwaha memiliki sebuah manggala. Berikut adalah manggala beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Manggala Terjemahan
1. Ambek sang paramārthapaṇḍita huwus limpad sakèng śūnyatā, Batin sang tahu Hakikat Tertinggi telah mengatasi segalanya karena menghayati Kehampaan[1],
Tan sangkèng wiṣaya prayojñananira lwir sanggrahèng lokika, Bukanlah terdorong nafsu indria tujuannya, seolah-olah saja menyambut yang duniawi,
Siddhāning yaśawīrya donira sukhāning rāt kininkinira, Sempurnanya jasa dan kebajikan tujuannya. Kebahagiaan alam semesta diperihatinkannya.
santoṣâheletan kelir sira sakèng sang hyang Jagatkāraṇa. Damai bahagia, selagi tersekat layar pewayangan dia dari Sang Penjadi Dunia.
2. Us.n.is.angkwi lebûni pâdukanirâ sang hyang Jagatkâran.a Hiasan kepalaku merupakan debu pada alas kaki beliau Sang Hyang Penjadi Dunia
Manggeh manggalaning miket kawijayan sang Pârtha ring kahyangan Terdapatkan pada manggala dalam menggubahkan kemenangan sang Arjuna di kahyangan

 

 

(Saduran Wikipedia )

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^Terjemahan berdasarkan buku Ignatius Kuntara WiryamartanaArjunawiwāha, (1990:124) dengan beberapa perubahan kecil

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • (Indonesia)Ignatius Kuntara Wiryamartana1990Kakawin Arjunawiwaha. Transformasi Teks Jawa Kuno. Yogyakarta: Duta Wacana University Press
  • (Indonesia)J. Zoetmulder, 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Penerbit Djambatan. Hal. 298 – 316.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

 

Telah terbit buku epik Airlangga seri MAHAPRALAYA

telah

GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 5

GEGER DI PUNCAK MERAPI

5

pagi itu…

Mentari bersinar cerah.. seakan tertawa-tawa melihat embun-embun yang berlarian kesana kemari menghindari sinarnya, keceriaan sang mentari sepertinya juga merasuk pada hati seorang bocah yang sedang berlari –lari di halaman sebuah rumah bambu yang sudah tidak utuh lagi, terlihat bekas hangus terbakar di sana-sini.dirumah itu pulalah dulu Seorang yang Sakti tinggal,Ki Ageng Pameling Jati.

Sudah sepekan Ayu Dyah Lastriti, Nyai Sumi dan panji saka tinggal di sana, betapa kaget mereka waktu pertama kali tiba di tempat itu, tidak berbeda dengan padukuhan pakeman yang mereka tinggalkan ternyata padepokan ini pun telah dibakar pula, untung ketika mereka tiba api sudah padam bahkan bangunan utama yang berada di tengah-tengah bangunan lain masih bisa di gunakan, hanya beberapa bagian saja yang terbakar dan didalamnya masih terdapat bahan makanan yang mungkin tidak habis dimakan dalam waktu setengah tahun kedepan. Yang mengherankan di pojok halaman rumah itu ada sebuah makam yang masih basah, sepertinya baru saja ada orang yang datang  untuk menguburkan orang  yang meninggal. Tapi mereka sudah tidak memperdulikan kejanggalan – kejanggalan itu………

sekali lagi mohon maaf harus saya penggal disini, maklum masih menunggu penerbit baik hati mau menerbitkan tulisan saya

total serial Panjisaka ada dua judul GEGER DI PUNCAK MERAPI dan MENCARI KITAB KOSONG, sementara utk GEGER DI PUNCAK MERAPI ada 102 episode

Posted in SERIAL PANJISAKA

GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 4

GEGER DI PUNCAK MERAPI

4

Hari telah menginjak terang tanah ketika seluruh prajurit Bintoro meninggalkan padukuhan Pakeman, meninggalkan kepedihan bagi yang melihatnya, bangunan-bangunan terbakar, tangisan dan jeritan pilu terdengar menyayat hati , tangisan para istri yang meratapi kematian suaminya, sementara beberapa laki-laki yang selamat mulai mengumpulkan mayat-mayat rekan mereka yang telah mati. Termasuk ki Lurah Prajoto dan Ki Jagabaya Agung Garling orang-orang yang selama ini menjadi panutan mereka, menguburnya dalam satu liang besar di ujung desa, lalu mereka kembali kerumah masing-masing, menutup rapat-rapat pintu rumah. Yang tinggal hanya kesunyian, kepedihan bagi seluruh penduduk Padukuhan Pakeman.

Sementara tampak dua orang perempuan tengah berdiri terpaku di sebuah bukit kecil di belakang padukuhan, tampak jelas dari atas bukit itu segala yang melanda padukuhan pakeman,  rumah-rumah yang terbakar, termasuk rumah Ki Lurah Prajoto yang tadi malam masih menjadi tempat mereka berdua tinggal. Mereka berdua bisa selamat dari amukan orang-orang Bintoro karena pada saat  kematian ki Damir dan perginya Ki Demung dari halaman rumah Ki Lurah Prajoto, bergegas idtri Lurah Prajoto, nyi Sumi menarik tangan Ayu Dyah Lastriti yang sedang mengintip dari balik dinding dari kuit bamboo itu untuk meninggalkan rumah melalui pintu belakang, mereka berlari tanpa henti menuju sebuah bukit yang tak jauh dari padukuhan sembil menggendong Panji Saka yang terus menangis sepanjang jalan. Beruntung Nyai Sumi hafal jalan setapak menuju bukit itu, meski tertatih-tatih dan beberapa kali Ayu Dyah Lastriti terpeleset karena licinnya jalan karena hujan deras semalam. sesampai mereka di atas bukit itu, ketika matahari mulai memperlihatkan dirinya.

“ Apa yang harus kita lakukan sekarang den Ayu ? “ berkata Nyi Sumi dengan menggendong Panji Saka yang tengah tertidur  dipelukannya

“ Aku sudah tidak punya apa – apa lagi, semua sudah hilang, Aku tak ingin lagi kembali ke sana karena hanya perih yang akan aku dapat….Aku akan ikut denganmu Den ayu, mengabdi padamu..” lanjut Nyi sumi istri ki Lurah Prajoto

“ Sabar nyai, aku bisa merasakan pedih yang kamu rasakan… Aku juga pernah mengalaminya sepekan yang lalu ketika Pademangan Ngambat di serang oleh prajurit Bintoro…” sahut perempuan yang lebih muda yang ternyata adalah Ayu Dyah Lastriti istri Demang Ngambat Panji Sodra

“ Aku akan tetap memenuhi permintaan kakang sodra untuk mengantar anakku ke padepokan Ki Ageng Pameling Jati…Aku akan menunggu disana meski Ki Ageng tak ada, karena aku yakin suatu ketika beliau pasti pulang…”

“ Aku akan ikut den Ayu. jika demikian… mohon kiranya Den Ayu mau menerima pengabdianku ini..” sahut Nyai Sumi

“ Baiklah aku terima pengabdianmu nyai… namun perlu kamu ketahui bahwa aku sudah tidak punya apa – apa , aku ingin tetap bertahan hidup semata – mata hanya karena anak ini “ jawab Dyah Lastriti

“ yang paling penting sekarang adalah kita harus segera berangkat menuju padepokan Ki Ageng, sebelum orang – orang bintoro kesana “

“ baiklah den ayu mari kita berangkat ke sana, mudah – mudahan sebelum tengah malam nanti kita sudah sampai “ Sahut Nyai Sumi sambil beranjak dari tempatnya berdiri

Posted in SERIAL PANJISAKA

GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 3

GEGER DI PUNCAK MERAPI

3

Malam itu langit diselimuti mendung….

Padukuhan Pakeman seolah menjadi tempat yang sangat mengerikan,sunyi….

Binatang malam pun seolah engan untuk mengeluarkan suara… mereka seolah terhanyut akan suasana yang mencekam di padukuhan itu…

Didalam rumah Ki lurah… suasana tidak lebih baik dari di luar, Ki lurah, Ki damir , Ki demung dan juga penghuni lainnya seolah dicekam suasana tegang ..  tidak satupun yang bisa memejamkan matanya..

Ki Damir meningkatkan kewaspadaannya, suara daun jatuhpun bisa terdengar olehnya…di peganggya erat golok yang selalu menemani kemanapun dia pergi… Tiba-tiba terdengar suara ki Demung dari balik kamarnya..

“ Ki sanak yang diatas turunlah , kenapa mengendap-endap jika kamu bermaksud baik..”

Hebat orang tua ini, pikir Ki damir, aku sudah demikian waspadanya sampai suara daun jatuhpun aku bisa dengar, tapi kedatangan orang yang dikatakan Ki demung sama sekali aku tidak tahu, sulit diukur seberapa kesaktian Ki Demung juga tamu tak diundang itu. Pikir ki damir.

“ he..he..he.., masih awas juga kau tua bangka… kamulah yang seharus nya keluar.. jangan seperti tikus yang selalu sembunyi di leng..”

Ki damir bergegas bangkit dan menuju ke depan rumah di ikuti Ki Lurah Prajoto. Di halaman rumah ternyata sudah berdiri Ki Demung Ganjer  dengan memegang erat tongkat hitam yang selalu dibawanya, di sebelah depan tampak berdiri seorang perempuan separuh baya dan seorang laki-laki yang lebih muda usianya. Kedua-duanya berpakaian jubah hitam, si perempuan tampak selalu bergerak-gerak seperti penari, sedang mulutnya selalu komat-kamit seperti membaca mantra. Ditangannya terlihat sebuat cemeti. Sedangkan lelaki disampingnya berdiri tegak, yang lebih menyeramkan adalah raut muka laki-laki itu, semua berwarna merah, bahkan kedua bola matanyapun menyinarkan warna merah darah. Sekali melihat Ki damir tahu berhadapan dengan siapa, pernah dia mendengar dari para teliksandi kademangan ngambat  bahwa ada sepasang kekasih tua yang sedang menjelajahi dunia kanuragan dan menjadi buruan Majapahit karena selalu menteror dan membunuh setiap orang yang di jumpainya. Yang perempuan bernama Ni Luh Meruti yang berjuluk dewi maut sedang yang laki-laki adalah Kebo Abangan yang berjuluk tapak darah, mereka berdua ini termasuk tokoh tingkat tiga  dan termasuk dalam tokoh-tokoh golongan sesat musuh dari majapahit. Entah bagaimana mereka berani muncul lagi didunia kanuragan, mungkin karena sekarang majapahit telah runtuh sehingga mereka merasa aman untuk berkeliaran lagi.

“ Hem… ternyata kalian  Ni luh Meruti dan Kebo Abangan… apa maksud kedatanganmu malam-malam begini… “ ujar ki demung dingin.

“ he-he .. aki peot.. kamu selamanya memang orang desa yang dungu.. bisanya hanya jadi begundalnya si pameling jati…, padepokanmu sudah aku bakar lihatlah diatas sana … bukankah masih terlihat merah oleh api..he..he..he..” jawab Ni luh Meruti. Ki demung tampak kaget dan berusaha menguasai amarahnya.

“ apa yang kalian cari di padepokan kami…”

“ aku dan adi Kebo abangan ingin meminta hak kami pada pameling jati…”

“ apa maksukmu Nyi…?’

“ kamu orang tua jangan pura-pura tidak tahu… aku ingin meminta kitab Sasmita dan laksita yang menjadi hak kami…”

“ he..he..he.. semua orang di jagat ini tahu bahwa tidak ada hubungan kalian dengan kitab-kitab itu , bagaimana kalian dengan tidak malu mengatakan bahwa itu menjadi hak kalian..?

“ jangat banyak bacot kamu orang tua, sekarang jawab pertanyaanku.. dimana kedua kitab itu sekarang… pasti kamu tahu…?’

“ dengarlah kalian orang-orang sesat… sekalipun aku tahu tak nanti aku serahkan pada kalian…”

“baiklah jangan menyesal kalau kamu dan seluruh isi desa ini aku habiskan semua..”

belum lagi selesai kata-kata Ni luh Meruti, tib-tiba Kebo Abangan sudah melancarkan serangan mautnya, Tapak Darah… angin berbau amis mengiringi serangannya, Ki demung Bergegas menggeser kedua kakinya ke kiri dan menyabetkan tongkatnya kearah dada lawan, Kebo abangan seolah tidak peduli dengan serangan itu , dengan tangan kiri ditangkisnya tongkat Kidemung, terdengar suara benturan keras, adu tenaga keras lawan keras, kebo abangan terhuyung huyung tiga langkah kebelakang sementara Ki demung meloncat ke atas menghindarai  benturan tenaga, Namun begitu kakinya hampir menginjak tanah tiba-tiba dilihatnya cemeti Ni luh meruti mengincar kepalanya, dengan terpaksa dalam keadaan seperti itu tokat ditangan kanannya di sabetkan untuk menangkis, namun tak urung cemeti itu mengenai pundak kiri ki demung membuat ki demung terhuyung-huyng kebelakang.

“ Licik..” teriak Kidamir  yang langsung menyerang Ni Luh Meruti dengan goloknya, membabat tiga jalur sekaligus, Ni Luh Meruti bukanlah tokoh deretan tiga dalam dunia kanuragan bila tidak bisa menghindar dari serangan itu, dengan indahnya dia berjumpalitan menghidar serangan lawan.

“ hem bagus… siapa kamu ki sanak.. bagaimana kamu bisa memainkan golok sudra..?

apa yang diucapkan Ni luh membuat Ki damir sedikit terkejut, bagaimana mungkin musuh nya dalam sekali gerakan dapat mengetahui jurus yang di lakukannya.Jurus golok sudra adalah ciri khas jurus-jurus kademangan ngambat yang diciptakan untuk semua prajuritnya, Ki damir adalah salah satu orang yang cukup mahir menggunakan jurus itu. Kidamir diam tidak menjawab, seluruh urat syarafnya di pompa untuk siap sedia menjalani pertarungan selanjutnya. suasana jadi tegang, masing-masing bersiap melakukan pertarungan, cukuplah bagi mereka untuk mengetahui kekuatan lawan dalam segebrakan tadi. Tiba-tiba Ki demung  berteriak pad Ki Lurah Prajoto “ Ki Lurah jangan hiraukan dua manusia busuk ini , aku masih sanggup untuk menghadapinya, lebih baik ki Lurah membantu Adi Jagabaya di ujung padukuhan , segeralah berangkat..” tanpa menunggu lagi ki lurah menjejakkan kakinya menuju ujung padukuhan yang sudah terlihat merah karena kebaran dimana-mana.

“ he..he.. kamu terlalu jumawa demung,.. lebih baik kau serahkan kitab-kitab itu.. dan aku akan pergi dari sini..”

“ jangan mimpi kamu  Ni luh… sampai nyawaku tercabutpun tak akan kamu mendapatkan kitab – kitab itu..”

Ni Luh tiba-tiba berteriak keras sambil menyabetkan cemetinya kearah ki Demung. Sementara Kidamir tanpa menunggu-nunggu lagi langsung menyabetkan goloknya dengan jurus golok sudra kearah kebo abangan. Terjadilah pertempuran seru antara empat orang ini, masing-masing berusaha menjatuhkan lawan dengan jurus-jurus yang dimilikinya.

Sementara di ujung padukuhan , terjadi perang yang tidak seimbang, para penduduk padukuhan yang tidak pernah di latih berperang harus menghadapi pasukan bintoro yang sudah mengalami asam garam berbagai peperangan. terlihat Ki Jagabaya dan Ki Lurah prajoto mengadakan perlawanan yang sangat sengit. Ki Lurah menghadapi seorang prajurit yang bersenjatakan sepasang pedang, sedang Ki jagabaya menghadapi seorang prajurit berkepala botak  bertubuh pendek yang sangat gesit . kedua orang pimpinan padukuhan pakeman itu terlihat sangat kesulitan, bahu Ki jagabaya terlihat berlumuran darah oleh sabetan pedang pendek prajutrit botak itu, sementara ki Lurah tidak lebih baik dari ki jagabaya, kedua pahanya tampak robek oleh sayatan sepasang pedang lawan. Namun keduanya tidak menyerah, seperti kesetanan mereka melakukan perlawanan.

“ adi Kunto dan Adi Kuntet lebih baik kita tinggalkan dua orang sesat ini, mari kita menuju tengah padukuhan sepertinya ada yang lebih seru dari suasanan disini, biar merka berdua diurus bekel-bekel bintoro yang lain” teriak seorang lelaki yang dari tadi berdiri di samping tempat pertempuran , langsung melesat kearah padukuhan pakeman. Merka bertiga adalah para pendekar yang sudah mengabdi pada kerajaan bintoro, dan menyandang pangkat senopati, mereka dulunya adalah pendekar adari tanah sabrang yang kemudian menjelajahi tanah jawa untuk mencari guru, yang kemudian dalam perjalannannya mereka bertemu dengan seorang soleh dari ampel yang kemudian diangkat menjadi murid dan mengabdi pada kerajaan bintoro. mereka juga merupakan tokoh-tokoh dunia kanuragaan dalam tingkat tiga, bernama sabrang Kunti yang paling tua , sabarang kunto yang kedua, dan sabrang kuntet yang ketiga dalam dunia kanuragan mereka berjuluk pendekar pedang jagat, karena mereka memiliki ilmu gabungan yang disebut pedang jagat. permainan pedang mereka  berdasarkan pada gerakan bintang kemukus, bila mereka memainkan jurus ini, lawan akan melihat ribuan mata pedang yang menghantam dari segala penjuru.

Sementara itu pertempuran yang terjadi dihalaman rumah ki lurah  masih berlangsung seru, sudah ratusan jurus yang dikeluarkan, namun terlihat pihak ki demung dan ki damir mulai terdesak hebat, karena ki demung harus membagi konsentrasi untuk melindungi ki damir dari serangan tapak darah kebo abangan. karena memang ki damir kalah satu tingkat dengan kebo abangan. sementara Ni luh Meruti terlihat semakin beringas melancarkan serangannya kearah ki demung. tanpa disadari oleh mereka yang sedang bertempur di tempat itu sudah berdiri berjajar tiga orang lelaki , pendekar sabrang kuni,kunto dan kuntet. Menyaksikan bertempuran itu dengan seksama, seolah sedang membaca lawan yang akan dihadapi nanti. Tiba-tiba terdengar teriakan dari ki damir, kerena dadanya terkena pukulan tapak dara kebo abangan, terlihat dada ki Damir mengeluarkan asap berbau amis, pada saat itulah dari mulut pendekar sabrang Kunti terdengar perintah “serang…”

Sejuta anak panah meluncur deras kearah pertempuran itu, suasana jadi berubah, ni luh meruti, ki demung dan kebo abangan sibuk menyapu panah-panah yang menuju kearahnya, yang sangat mengenaskan adalah keadaan ki damir, pada saat tubuhnya sempoyongan karena menerima pukulan kebo abangan, dia tidak punya waktu untuk menangkis serbuan anak panah kearahnya sehingga tubuhnya habis tertusuk puluhan anak panah, ki damir tewas seketika.

“ Biadab kalian..” seru Kidemung sambil meraup tubuh Ki damir yang sudah tidak bernyawa lagi.

“ Berhenti..” aba-aba kembali dari mulut Kunti. “ lebih baik kalian menyerah dan kembali kejalan kami orang-orang Bintoro..”

“huh..siapa sudi.. jadi begundal Bintoro.. “ teriak Ni luh Meruti lantang.

“ heh.. aku tidak peduli dengan kalian begundal-begundal bintoro, dan aku tidak ada urusan denga kalian… mari adi kebo abangan kita tinggalkan tempat ini masih banyak waktu untuk mencari tua bangka ini…kalau dia selamat…”  seru Ni luh Meruti sambil menjejakkan kakinya melesat kea rah kegelapan disusul kebo abangan.

“ kakek tua lebih baik kamu menyerah… padukuhan ini sudah kami kuasai… lebih baik kamu mencari jalan kedamaian, kami orang-orang bintoro tak nanti berlaku kurang sopan padamu…”

“ hei..sabrang kunti.. dengarlah aku.. bahwa aku ki demung Ganjer tak akan menyerah dan memaafkan perbuatan kalian ini… kalau kalian orang-orang bintoro ingin mengajak pada kebaikan seharusnya bukan begini caranya…”

“ jadi kamu tidak mau menyerah baiklah jangan salahkan kami kalau kamu mati penasaran…” belum selesai ucapan kunti , Ki demung menggerung hebat menyerang kearahnya. Sigap kedua orang adiknya melindungi..lalu ketiganya membuat serangan serempak, hebat serang itu seluruh udara seperti tersedot kearah gerakan mereka, jurus pedang jagat.

Ki demung benar – benar tangguh, dia tak gentar menghadapi serangan lawan walau sudah menderita luka-luka disekujur tubuhnya akibat pertempuran dengan Ni luh meruti tadi.

Dua serangan kunto dan kunti dapat di tangkisnya tapi serangan pedang pendek kuntet mengenai pinggang kanannya, namun Ki demung sempat mebalas melontarkan puklulan ke bahu kuntet , tepat mengenai bahu sebelah kana hingga mengeluarkan suara tulang patah.

Ki demung terhuyung-huyung kebelakang , lalu meloncat kesisi kiri sambil menyambar tubuh Ki damir dan melesat menghilang di kegelapan.

“ Keparat… seru Sabrang Kunto,….” Yang akan menyusul kepergian Ki Demung., namun di cegah kakaknya.

“ sudahlah adi, tidak usah dikejar… kamu rawatlah si kuntet ini, “ lalu Sabrang Kunti yang menjadi  pimpinan penyerbuan itu menghadap ke  arah para prajuritnya

“ semua prajurit… geledah semua rumah.. temukan Ki ageng Pameling Jati dan Juga orang-oranga Kademangan Ngambat yang ber lari ke sini, jangan ada penjarahan, pemerkosaan ,kumpulkan semua orang di pendopo Padukuhan ,kalo ada yang membantah perintahku maka akan kuhabisi disini juga, Mengerti”tegas kata-kata Sabrang Kunti.

sendiko! ”… sahut  para prajurit serempak.

Sementara orang-orang bintoro sedang sibuk menjalankan perintah senopati mereka, di belakang padukuhan dimana sawah-sawah terbentang luas terlihat Ki Demung Ganjer berlarian dalam gelapnya malam sambil memanggul jasad Ki Damir yang sudah  mulai membeku, meloncat dari satu gundukan tanah kegundukan tanah yang lain menuju lereng merapi, tak peduli tanah licin dan hujan yang mulai turun dengan derasn. Tak sampai sepenanak nasi tibalah dia di sebuah pelataran luas, Padepokan Pameling Jati,

“ Biadab benar dua manusia laknat itu “  gumam Ki Demung Ganjer, dengan nanar menyapukan pandangannya keseluruh padepokan seolah berusaha menjamah seluruh kenangan yang pernah ada di padepokan itu, namun yang ada hanyalah bekas-bekas bangunan yang hangus terbakar. Setelah puas menjelajahkan seluruh alam pikirannya dan menentramkan gejolak hatinya Kidemung bergegas menggali lobang untuk menguburkan jasad Ki Damir, seorang sahabat yang baru siang tadi di kenalnya, persahabatan singkat yang terasa sangat bearti bagi Kidemung.

“ Selamat Jalan sahabatku, akan aku teruskan perjuanganmu untuk membawa anak junjunganmu ke bapa guruku “ berkata dalam hati Kidemung. Lalu segera bergegas meninggalkan tempat itu bersama hujan yang semakin deras mengguyur lereng-lereng Gunung Merapi.

Posted in SERIAL PANJISAKA

GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 2

GEGER DI PUNCAK MERAPI

2

pagi ….

Kabut masih  menyelimuti jalan di padukuhan itu, pada sebuah rumah ditengah-tengah padukuhan, terdengar sedang orang bercakap-cakap, rumah ki lurah prajoto, rumah yang teramat sederhana, terbuat dari dinding  gedek atau anyaman kulit bambu yang sudah kelihatan tua dimakan usia, atapnya dari daun-daun kelapa kering yang diayam dan disatukan dengan sebatang bambu sebagai tumpuannya. terlihat ki lurah prajoto dan Ki Damir sedang berbicara serius, ada ketegangan diraut muka masing-masing orang paroh baya itu.

“Demikian lah to ceritanya” ucap Ki damir yang masih memanggil nama terhadap ki lurah yang menjadi sahabatnya diwaktu kecil.

“ Aku bersama den ayu harus dengan diam-diam meninggalkan pademangan, berat rasanya…

melihat teman-temanku semua terbujur menjadi mayat oleh tangan-tangan prajurit bintoro..”

“ Bagaimana dengan Ki Demang Panji sodra ?”

“ itulah….. yang mengganggu pikiranku sampai sekarang.., semua kabar dari teliksandi tak ada yang sampai padaku hingga sampai di padukuhan ini..” ujar Ki Damir dengan raut muka yang sedih.

“ Ketika terakhir bertemu dengan Ki demang adalah saat matahari sedikit tergelincir ke barat, beliau memanggilku di pasemadennya”

“ Ki Damir… sudah setengah dari umurku kamu ikut aku…..aku percaya padamu, dan mungkin ini adalah hari terakhir kita bisa bertemu, aku titip anak dan istriku padamu, bawalah mereka ke padepokan Ki Ageng Pameling Jati di lereng merapi… bawalah kabar ini pada Ki Ageng… “ ucap ki Damir menirukan ucapan junjungannya. Ki Lurah Prajoto terdiam mendengarnya, seolah sedang membayangkan prahara yang menimpa kademangan ngambat.

“ hem..hem.. wah.. kalian ini kalo udah ketemu sudah ndak ingat  waktu…sampai – sampai makanan di depan mata tak juga disentuh” seloroh seorang perempuan paroh baya dari balik pintu ruangan tengah.

“ weleh..weleh… kamu Sumi toh?.. kamu jadi nyai lurah toh sekarang…” ujar ki Damir sambil beranjak dari dipan tempatnya duduk. Perempuan yang disebut sekar itu tersenyum dan berkata.

“ iya.. bagaimana keluargamu kang damir… maaf aku baru menemui sekarang , karena semalam kakang tidur begitu pulas sampai suara jangkrik di pinggir rumah takut untuk bersuara…” Ki Damir tersipu , mungkin karena capek yang teramat membuat dia langsung tidur tadi malam begitu melihat dipan, dan dengkurannya itu yang disebut menakuti jangkrik…

“ wah.. maaf kalo begitu.. aku belum kraman nyi, ndak ada yang kepincut…” ujar ki Damir

“ monggo lho diminum kopinya, mumpung masih hangat, aku mau kedalam dulu membuatkan hidangan buat den Ayu mu “ seloroh nyai lurah sambil meletakkan dua cangkir kopi panas di dipan, lalu pergi ke balik pintu.

“bagaimana to… apakah benar kata orang orang semalam bahwa Ki Ageng tidak ada di Padepokan?” meneruskan Ki Damir

“ Betul Mir.. tidak ada seorangpun yang tahu kemana Ki ageng pergi, bahkan Ki demung Ganjer cantriknyapun tidak tahu.. dan sekarang ki Demung juga tidak ada di Padepokan…”

“ Duh Gusti… apa yang harus aku lakukan..” rintih Ki Damir.

Keduanya terdiam , tenggelam dalam alam pikirannya masing-masing.

“ Kulonuwun Ki Lurah…” terdengar sebuah suara didepan rumah,

“ Monggo… o.. ki Jagabaya.. mari masuk” jawab ki Lurah sambil membukakan pintu.

Yang masuk adalah seorang lelaki bertubuh tegap, dengan kumis melintang seperti tokoh pewayangan werkudoro. Lelaki ini yang semalam menjadi pemimpin orang-orang yang mencegat Ki Damir, dari langkah dan nafasnya Ki Damir tahu bahwa orang ini mempunyai kemampuan olah kanuragan yang lumayan. Untung semalam tidak terjadi perkelahian,kalo saja terjadi mungkin akan susah menjatuhkan nya dalam 10 gebrakan. Pikir Ki damir.

Lelaki yang disebut ki Jagabaya itu mengangguk hormat kepada ki Damir, lalu ikut duduk di samping Ki lurah Prajoto.

“ Ini adalah Ki Jagabaya agung garling, dulu dia adalah cantriknya ki Ageng juga lalu oleh ki ageng diminta membantuku menjadi jagabaya” ucap Ki Lurah memperkenalkan tamunya.

“ ah.. saya hanya seorang cantrik yang lopo ki.. tidak bisa apa-apa.. “ ujar ki Jagabaya merendah. Ki damir tersenyum, senang melihat cara merendah ki Jagabaya ini, pantas kalo dia menjadi cantriknya Ki ageng.

“ Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa padukuhan dijaga siang malam seperti ini ki damir”sambung ki lurah yang mulai tidak menyebut nama pada sahabatnya itu.

“ iya kenapa Ki lurah…”

“ seperti juga kademangan Ngambat, kami juga berjaga-jaga dari amukan pasukan bintoro, karena berita yang kami dengar, mereka juga mencari Ki ageng Pameling Jati karena dianggap menyebarkan ajaran abangannya siti brit”

“ tentu saja kami tidak ingin junjungan padukuhan kami di injak-injak, oleh karena itulah kami… “ sambung Ki jagabaya dengan nafas tersengal seolah menahan amarah yang hampir meledak. “ menjaga padukuhan ini sedemikian rupa…”

Mereka bertiga mengobrol hingga waktu matahari ditengah ubun-ubun, kemudian bersama  mereka menuju kependopo padukuhan yang ternyata sudah dikerumuni banyak orang, yang ingin mendengarkan penjelasan ki Lurah terhadap kejadian semalam.

Pendopo padukuhan Pakeman….

Bangunan pendopo itu merupakan bangunan tanpa dinding, hanya tiang-tiang penyangga berjumlah delapan yang terlihat tegak gagah dan menghitam, lantainya terbuat dari batu hitam persegi empat yang disusun rapi, serta licin entah bagaimana membuatnya, mungkin karena seringnya di pakai untuk duduk dan kegiatan padukuhan  hingga membuat batu-batu lantai dari batu hitam koral itu licin seperti ubin.

Siang ini seluruh lantai sesak dijejali orang-orang padukuhan yang ingin mendengarkan keterangan tentang tamu desa. semua laki-laki yang tua, yang menjadi sesepuh padukuhan duduk bersila paling depan, sementara orang –orang muda dibelakangnya, bahkan ada yang bergerombol dipintu masuk pendopo serta diterasnya. Ki Lurah Prajoto terlihat duduk berhadapan dengan warganya  di dampingi Ki Jagabaya Agung garling yang duduk disebelah kirinya. Sementara Ki Damir duduk di sudut kanan ruangan, sambil matanya mengamati seluruh suasana dipendopo. Ki Lurah membuka pertemuan itu dengan mengucapkan salam dan hormat pada tetua-tetua padukuhan yang hadir.

Para Kadang Padukuhan Pakeman sekalian, pertemuan siang hari ini merupakan pertemuan yang cukup penting bagi kita semua…. Bagi padukuhan kita..bagi anak cucu kita..” kata ki lurah lantang.lalu meneruskan.

“ di samping kita ini … orang yang jadi tamu kita semua .. yang tadi malam datang dan dicegat oleh ki Jagabaya… adalah saudara kita sendiri.. namanya ki damir dari kademangan ngambat…, mereka datang karena ingin bertemu dengan junjungan kita Ki Ageng Pameling Jati.. namun sayang bahwa ki Ageng tidak berada di padepokannya , dan kita tidak tahu kemana beliau pergi…” ki lurah berhenti sambil mengambil nafas ..

“ Ki damir ini adalah teman saya bermain dulu waktu kecil… ya disini.. dipadukuhan pakeman ini.. mungkin para sesepuh padukuhan masih ingat dengan beliau… rumah beliau dulu di pojok desa.. karena ditinggal oleh kedua orangtuanya.. lalu ki damir mengabdikan diri ke kademangan ngambat.. sampai sekarang ..” mendengar penjelasan ki lurah , terlihat para sesepuh yang duduk dideretan depan saling menggut-manggut tanda mereka lamat-lamat ingat terhadap orang yang disebut ki Damir itu.

“ Namun sayang.. “ lanjut ki Lurah.. “ sepekan yang lalu menurut Warta yang dibawa Ki damir ini, bahwa kademangan Ngambat telah diserang oleh orang-orang Bintoro…” semua orang menjadi tegang mendengar kabar itu.. suasana jadi sepi.. seolah-olah semua orang menahan nafasnya.. tiba-tiba dari kerumunan orang dibelakang terdengar suara batuk-batuk kecil, lalu muncul seorang kakek tua yang mengenakan surjan lurik lusuh…

“ Ki Lurah… Mungkin padukuhan kita ini pun akan mengalami hal yang sama…. “ ujar kakek tua itu sambil berjalan menuju kearah ki Lurah duduk. Ki lurah dan semua sesepuh padukuhan berdiri menjura hormat pada kakek tersebut, lalu ki Lurah menjura dengan begitu hornat..

“ Selamt Datang Ki Demung Ganjer… Maaf kalau kami tidak menyambut kedatangan aki..”

orang yang disebut ki Demung ganjer itu mengangkat tangan dan meneruskan kata-katanya..

“ lebih baik sekarang kita semua bersiap-siap, menyambut kedatangan mereka.. usahakan untuk tidak terjadi pertempuran… karena hal semacam itu akan merugikan semua pihak… “

“ Betul apa yang dikatakan Ki Demung…, harap semua kadang kembali kerumah masing –masing, dan ki Jagabaya mohon untuk segera memperketat penjagaan “  kata ki lurah pada semua orang yang berada di pendopo. Mendengar perintah Ki Lurah , semua orang membubarkan diri, Ki Jagabaya pun beranjak dari duduknya bersiap untuk mengatur semua penjagaan di padukuhannya. Namun sebelum keluar dari pendopo Ki Jagabaya menjura pada Ki Demung ganjer.. “ Bagaimana Keadaanmu Kakang.. “ Ki jagabaya menyebut Ki Demung sebagai kakang walau usianya terpaut sangat jauh karena mereka adalah cantrik-cantrik Ki Ageng Pameling Jati.

“ aku Baik-baik saja adi Agung Garling… jaga dirimu baik-baik, firasatku sangat tidak enak dengan semua ini..”

“ baik kakang , mohon doa restunya” di jawab dengan anggukan oleh Ki Demung, kemudian bergegas Ki Jagabaya keluar dari pendopo.

Ki Lurah, Ki damir dan juga Ki demung tetap di pendopo, setelah ki Lurah memperkenalkan Ki Damir pada Ki Demung,dan juga menceritakan keadaan di ngambat. Ki demung Ganjer pun menceritakan pengalamannya setelah beberapa hari ini meninggalkan padepokan, apa yang dijumpainya di perjalanan mencari junjungannya Ki Ageng Pameling Jati. Memang tujuan Ki Demung meninggalkan Padepokan adalah mencari Junjungannya karena sudah berpuluh-puluh tahun dia ikut Ki ageng Pameling Jati walau hanya sebagai cantrik, baru kali ini ada kejadian seperti ini, junjungan nya pergi tanpa pesan apapun kepadanya, sehingga membuatnya bingung. Namun di tengah perjalanannya mencari Junjungannya itu dia mendapat pesan dari Ki Ageng pada sebatang Lontar, yang memintanya untuk tidak usah mencari Ki Ageng Pameling Jati , Ki demung diminta Untuk Kembali ke Padepokan dan menyelamatkan Padukuhan dan menyelamatkan Lelananging jagat yang akan datang ke padukuhan pakeman, serta mengabdi pada salah satu Murid Kiageng Pameling yaitu  Ki Ageng Panyuluhan di Padepokan Sasmita Jati. Oleh karena itu Ki demung bergegas pulang ke padukuhan Pakeman, dalam perjalanan itulah dia melihat pergerakan orang –orang bintoro menuju ke Padukuhan Pakeman.

Lama mereka bercakap-cakap ..tanpa terasa matahari telah tergelincir kebarat. Kemudian atas permintaan ki Lurah, mereka beranjak meninggalkan Pendopo Padukuhan menuju ke rumah Ki lurah.

Posted in SERIAL PANJISAKA