GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 3

GEGER DI PUNCAK MERAPI

3

Malam itu langit diselimuti mendung….

Padukuhan Pakeman seolah menjadi tempat yang sangat mengerikan,sunyi….

Binatang malam pun seolah engan untuk mengeluarkan suara… mereka seolah terhanyut akan suasana yang mencekam di padukuhan itu…

Didalam rumah Ki lurah… suasana tidak lebih baik dari di luar, Ki lurah, Ki damir , Ki demung dan juga penghuni lainnya seolah dicekam suasana tegang ..  tidak satupun yang bisa memejamkan matanya..

Ki Damir meningkatkan kewaspadaannya, suara daun jatuhpun bisa terdengar olehnya…di peganggya erat golok yang selalu menemani kemanapun dia pergi… Tiba-tiba terdengar suara ki Demung dari balik kamarnya..

“ Ki sanak yang diatas turunlah , kenapa mengendap-endap jika kamu bermaksud baik..”

Hebat orang tua ini, pikir Ki damir, aku sudah demikian waspadanya sampai suara daun jatuhpun aku bisa dengar, tapi kedatangan orang yang dikatakan Ki demung sama sekali aku tidak tahu, sulit diukur seberapa kesaktian Ki Demung juga tamu tak diundang itu. Pikir ki damir.

“ he..he..he.., masih awas juga kau tua bangka… kamulah yang seharus nya keluar.. jangan seperti tikus yang selalu sembunyi di leng..”

Ki damir bergegas bangkit dan menuju ke depan rumah di ikuti Ki Lurah Prajoto. Di halaman rumah ternyata sudah berdiri Ki Demung Ganjer  dengan memegang erat tongkat hitam yang selalu dibawanya, di sebelah depan tampak berdiri seorang perempuan separuh baya dan seorang laki-laki yang lebih muda usianya. Kedua-duanya berpakaian jubah hitam, si perempuan tampak selalu bergerak-gerak seperti penari, sedang mulutnya selalu komat-kamit seperti membaca mantra. Ditangannya terlihat sebuat cemeti. Sedangkan lelaki disampingnya berdiri tegak, yang lebih menyeramkan adalah raut muka laki-laki itu, semua berwarna merah, bahkan kedua bola matanyapun menyinarkan warna merah darah. Sekali melihat Ki damir tahu berhadapan dengan siapa, pernah dia mendengar dari para teliksandi kademangan ngambat  bahwa ada sepasang kekasih tua yang sedang menjelajahi dunia kanuragan dan menjadi buruan Majapahit karena selalu menteror dan membunuh setiap orang yang di jumpainya. Yang perempuan bernama Ni Luh Meruti yang berjuluk dewi maut sedang yang laki-laki adalah Kebo Abangan yang berjuluk tapak darah, mereka berdua ini termasuk tokoh tingkat tiga  dan termasuk dalam tokoh-tokoh golongan sesat musuh dari majapahit. Entah bagaimana mereka berani muncul lagi didunia kanuragan, mungkin karena sekarang majapahit telah runtuh sehingga mereka merasa aman untuk berkeliaran lagi.

“ Hem… ternyata kalian  Ni luh Meruti dan Kebo Abangan… apa maksud kedatanganmu malam-malam begini… “ ujar ki demung dingin.

“ he-he .. aki peot.. kamu selamanya memang orang desa yang dungu.. bisanya hanya jadi begundalnya si pameling jati…, padepokanmu sudah aku bakar lihatlah diatas sana … bukankah masih terlihat merah oleh api..he..he..he..” jawab Ni luh Meruti. Ki demung tampak kaget dan berusaha menguasai amarahnya.

“ apa yang kalian cari di padepokan kami…”

“ aku dan adi Kebo abangan ingin meminta hak kami pada pameling jati…”

“ apa maksukmu Nyi…?’

“ kamu orang tua jangan pura-pura tidak tahu… aku ingin meminta kitab Sasmita dan laksita yang menjadi hak kami…”

“ he..he..he.. semua orang di jagat ini tahu bahwa tidak ada hubungan kalian dengan kitab-kitab itu , bagaimana kalian dengan tidak malu mengatakan bahwa itu menjadi hak kalian..?

“ jangat banyak bacot kamu orang tua, sekarang jawab pertanyaanku.. dimana kedua kitab itu sekarang… pasti kamu tahu…?’

“ dengarlah kalian orang-orang sesat… sekalipun aku tahu tak nanti aku serahkan pada kalian…”

“baiklah jangan menyesal kalau kamu dan seluruh isi desa ini aku habiskan semua..”

belum lagi selesai kata-kata Ni luh Meruti, tib-tiba Kebo Abangan sudah melancarkan serangan mautnya, Tapak Darah… angin berbau amis mengiringi serangannya, Ki demung Bergegas menggeser kedua kakinya ke kiri dan menyabetkan tongkatnya kearah dada lawan, Kebo abangan seolah tidak peduli dengan serangan itu , dengan tangan kiri ditangkisnya tongkat Kidemung, terdengar suara benturan keras, adu tenaga keras lawan keras, kebo abangan terhuyung huyung tiga langkah kebelakang sementara Ki demung meloncat ke atas menghindarai  benturan tenaga, Namun begitu kakinya hampir menginjak tanah tiba-tiba dilihatnya cemeti Ni luh meruti mengincar kepalanya, dengan terpaksa dalam keadaan seperti itu tokat ditangan kanannya di sabetkan untuk menangkis, namun tak urung cemeti itu mengenai pundak kiri ki demung membuat ki demung terhuyung-huyng kebelakang.

“ Licik..” teriak Kidamir  yang langsung menyerang Ni Luh Meruti dengan goloknya, membabat tiga jalur sekaligus, Ni Luh Meruti bukanlah tokoh deretan tiga dalam dunia kanuragan bila tidak bisa menghindar dari serangan itu, dengan indahnya dia berjumpalitan menghidar serangan lawan.

“ hem bagus… siapa kamu ki sanak.. bagaimana kamu bisa memainkan golok sudra..?

apa yang diucapkan Ni luh membuat Ki damir sedikit terkejut, bagaimana mungkin musuh nya dalam sekali gerakan dapat mengetahui jurus yang di lakukannya.Jurus golok sudra adalah ciri khas jurus-jurus kademangan ngambat yang diciptakan untuk semua prajuritnya, Ki damir adalah salah satu orang yang cukup mahir menggunakan jurus itu. Kidamir diam tidak menjawab, seluruh urat syarafnya di pompa untuk siap sedia menjalani pertarungan selanjutnya. suasana jadi tegang, masing-masing bersiap melakukan pertarungan, cukuplah bagi mereka untuk mengetahui kekuatan lawan dalam segebrakan tadi. Tiba-tiba Ki demung  berteriak pad Ki Lurah Prajoto “ Ki Lurah jangan hiraukan dua manusia busuk ini , aku masih sanggup untuk menghadapinya, lebih baik ki Lurah membantu Adi Jagabaya di ujung padukuhan , segeralah berangkat..” tanpa menunggu lagi ki lurah menjejakkan kakinya menuju ujung padukuhan yang sudah terlihat merah karena kebaran dimana-mana.

“ he..he.. kamu terlalu jumawa demung,.. lebih baik kau serahkan kitab-kitab itu.. dan aku akan pergi dari sini..”

“ jangan mimpi kamu  Ni luh… sampai nyawaku tercabutpun tak akan kamu mendapatkan kitab – kitab itu..”

Ni Luh tiba-tiba berteriak keras sambil menyabetkan cemetinya kearah ki Demung. Sementara Kidamir tanpa menunggu-nunggu lagi langsung menyabetkan goloknya dengan jurus golok sudra kearah kebo abangan. Terjadilah pertempuran seru antara empat orang ini, masing-masing berusaha menjatuhkan lawan dengan jurus-jurus yang dimilikinya.

Sementara di ujung padukuhan , terjadi perang yang tidak seimbang, para penduduk padukuhan yang tidak pernah di latih berperang harus menghadapi pasukan bintoro yang sudah mengalami asam garam berbagai peperangan. terlihat Ki Jagabaya dan Ki Lurah prajoto mengadakan perlawanan yang sangat sengit. Ki Lurah menghadapi seorang prajurit yang bersenjatakan sepasang pedang, sedang Ki jagabaya menghadapi seorang prajurit berkepala botak  bertubuh pendek yang sangat gesit . kedua orang pimpinan padukuhan pakeman itu terlihat sangat kesulitan, bahu Ki jagabaya terlihat berlumuran darah oleh sabetan pedang pendek prajutrit botak itu, sementara ki Lurah tidak lebih baik dari ki jagabaya, kedua pahanya tampak robek oleh sayatan sepasang pedang lawan. Namun keduanya tidak menyerah, seperti kesetanan mereka melakukan perlawanan.

“ adi Kunto dan Adi Kuntet lebih baik kita tinggalkan dua orang sesat ini, mari kita menuju tengah padukuhan sepertinya ada yang lebih seru dari suasanan disini, biar merka berdua diurus bekel-bekel bintoro yang lain” teriak seorang lelaki yang dari tadi berdiri di samping tempat pertempuran , langsung melesat kearah padukuhan pakeman. Merka bertiga adalah para pendekar yang sudah mengabdi pada kerajaan bintoro, dan menyandang pangkat senopati, mereka dulunya adalah pendekar adari tanah sabrang yang kemudian menjelajahi tanah jawa untuk mencari guru, yang kemudian dalam perjalannannya mereka bertemu dengan seorang soleh dari ampel yang kemudian diangkat menjadi murid dan mengabdi pada kerajaan bintoro. mereka juga merupakan tokoh-tokoh dunia kanuragaan dalam tingkat tiga, bernama sabrang Kunti yang paling tua , sabarang kunto yang kedua, dan sabrang kuntet yang ketiga dalam dunia kanuragan mereka berjuluk pendekar pedang jagat, karena mereka memiliki ilmu gabungan yang disebut pedang jagat. permainan pedang mereka  berdasarkan pada gerakan bintang kemukus, bila mereka memainkan jurus ini, lawan akan melihat ribuan mata pedang yang menghantam dari segala penjuru.

Sementara itu pertempuran yang terjadi dihalaman rumah ki lurah  masih berlangsung seru, sudah ratusan jurus yang dikeluarkan, namun terlihat pihak ki demung dan ki damir mulai terdesak hebat, karena ki demung harus membagi konsentrasi untuk melindungi ki damir dari serangan tapak darah kebo abangan. karena memang ki damir kalah satu tingkat dengan kebo abangan. sementara Ni luh Meruti terlihat semakin beringas melancarkan serangannya kearah ki demung. tanpa disadari oleh mereka yang sedang bertempur di tempat itu sudah berdiri berjajar tiga orang lelaki , pendekar sabrang kuni,kunto dan kuntet. Menyaksikan bertempuran itu dengan seksama, seolah sedang membaca lawan yang akan dihadapi nanti. Tiba-tiba terdengar teriakan dari ki damir, kerena dadanya terkena pukulan tapak dara kebo abangan, terlihat dada ki Damir mengeluarkan asap berbau amis, pada saat itulah dari mulut pendekar sabrang Kunti terdengar perintah “serang…”

Sejuta anak panah meluncur deras kearah pertempuran itu, suasana jadi berubah, ni luh meruti, ki demung dan kebo abangan sibuk menyapu panah-panah yang menuju kearahnya, yang sangat mengenaskan adalah keadaan ki damir, pada saat tubuhnya sempoyongan karena menerima pukulan kebo abangan, dia tidak punya waktu untuk menangkis serbuan anak panah kearahnya sehingga tubuhnya habis tertusuk puluhan anak panah, ki damir tewas seketika.

“ Biadab kalian..” seru Kidemung sambil meraup tubuh Ki damir yang sudah tidak bernyawa lagi.

“ Berhenti..” aba-aba kembali dari mulut Kunti. “ lebih baik kalian menyerah dan kembali kejalan kami orang-orang Bintoro..”

“huh..siapa sudi.. jadi begundal Bintoro.. “ teriak Ni luh Meruti lantang.

“ heh.. aku tidak peduli dengan kalian begundal-begundal bintoro, dan aku tidak ada urusan denga kalian… mari adi kebo abangan kita tinggalkan tempat ini masih banyak waktu untuk mencari tua bangka ini…kalau dia selamat…”  seru Ni luh Meruti sambil menjejakkan kakinya melesat kea rah kegelapan disusul kebo abangan.

“ kakek tua lebih baik kamu menyerah… padukuhan ini sudah kami kuasai… lebih baik kamu mencari jalan kedamaian, kami orang-orang bintoro tak nanti berlaku kurang sopan padamu…”

“ hei..sabrang kunti.. dengarlah aku.. bahwa aku ki demung Ganjer tak akan menyerah dan memaafkan perbuatan kalian ini… kalau kalian orang-orang bintoro ingin mengajak pada kebaikan seharusnya bukan begini caranya…”

“ jadi kamu tidak mau menyerah baiklah jangan salahkan kami kalau kamu mati penasaran…” belum selesai ucapan kunti , Ki demung menggerung hebat menyerang kearahnya. Sigap kedua orang adiknya melindungi..lalu ketiganya membuat serangan serempak, hebat serang itu seluruh udara seperti tersedot kearah gerakan mereka, jurus pedang jagat.

Ki demung benar – benar tangguh, dia tak gentar menghadapi serangan lawan walau sudah menderita luka-luka disekujur tubuhnya akibat pertempuran dengan Ni luh meruti tadi.

Dua serangan kunto dan kunti dapat di tangkisnya tapi serangan pedang pendek kuntet mengenai pinggang kanannya, namun Ki demung sempat mebalas melontarkan puklulan ke bahu kuntet , tepat mengenai bahu sebelah kana hingga mengeluarkan suara tulang patah.

Ki demung terhuyung-huyung kebelakang , lalu meloncat kesisi kiri sambil menyambar tubuh Ki damir dan melesat menghilang di kegelapan.

“ Keparat… seru Sabrang Kunto,….” Yang akan menyusul kepergian Ki Demung., namun di cegah kakaknya.

“ sudahlah adi, tidak usah dikejar… kamu rawatlah si kuntet ini, “ lalu Sabrang Kunti yang menjadi  pimpinan penyerbuan itu menghadap ke  arah para prajuritnya

“ semua prajurit… geledah semua rumah.. temukan Ki ageng Pameling Jati dan Juga orang-oranga Kademangan Ngambat yang ber lari ke sini, jangan ada penjarahan, pemerkosaan ,kumpulkan semua orang di pendopo Padukuhan ,kalo ada yang membantah perintahku maka akan kuhabisi disini juga, Mengerti”tegas kata-kata Sabrang Kunti.

sendiko! ”… sahut  para prajurit serempak.

Sementara orang-orang bintoro sedang sibuk menjalankan perintah senopati mereka, di belakang padukuhan dimana sawah-sawah terbentang luas terlihat Ki Demung Ganjer berlarian dalam gelapnya malam sambil memanggul jasad Ki Damir yang sudah  mulai membeku, meloncat dari satu gundukan tanah kegundukan tanah yang lain menuju lereng merapi, tak peduli tanah licin dan hujan yang mulai turun dengan derasn. Tak sampai sepenanak nasi tibalah dia di sebuah pelataran luas, Padepokan Pameling Jati,

“ Biadab benar dua manusia laknat itu “  gumam Ki Demung Ganjer, dengan nanar menyapukan pandangannya keseluruh padepokan seolah berusaha menjamah seluruh kenangan yang pernah ada di padepokan itu, namun yang ada hanyalah bekas-bekas bangunan yang hangus terbakar. Setelah puas menjelajahkan seluruh alam pikirannya dan menentramkan gejolak hatinya Kidemung bergegas menggali lobang untuk menguburkan jasad Ki Damir, seorang sahabat yang baru siang tadi di kenalnya, persahabatan singkat yang terasa sangat bearti bagi Kidemung.

“ Selamat Jalan sahabatku, akan aku teruskan perjuanganmu untuk membawa anak junjunganmu ke bapa guruku “ berkata dalam hati Kidemung. Lalu segera bergegas meninggalkan tempat itu bersama hujan yang semakin deras mengguyur lereng-lereng Gunung Merapi.

Advertisements

About dewa pujangga

mereka yang tidak merisokan apa-apa. tidak akan mampu melakukan apa-apa. dan tidak akan pernah menjadi apa-apa
This entry was posted in SERIAL PANJISAKA. Bookmark the permalink.