GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 4

GEGER DI PUNCAK MERAPI

4

Hari telah menginjak terang tanah ketika seluruh prajurit Bintoro meninggalkan padukuhan Pakeman, meninggalkan kepedihan bagi yang melihatnya, bangunan-bangunan terbakar, tangisan dan jeritan pilu terdengar menyayat hati , tangisan para istri yang meratapi kematian suaminya, sementara beberapa laki-laki yang selamat mulai mengumpulkan mayat-mayat rekan mereka yang telah mati. Termasuk ki Lurah Prajoto dan Ki Jagabaya Agung Garling orang-orang yang selama ini menjadi panutan mereka, menguburnya dalam satu liang besar di ujung desa, lalu mereka kembali kerumah masing-masing, menutup rapat-rapat pintu rumah. Yang tinggal hanya kesunyian, kepedihan bagi seluruh penduduk Padukuhan Pakeman.

Sementara tampak dua orang perempuan tengah berdiri terpaku di sebuah bukit kecil di belakang padukuhan, tampak jelas dari atas bukit itu segala yang melanda padukuhan pakeman,  rumah-rumah yang terbakar, termasuk rumah Ki Lurah Prajoto yang tadi malam masih menjadi tempat mereka berdua tinggal. Mereka berdua bisa selamat dari amukan orang-orang Bintoro karena pada saat  kematian ki Damir dan perginya Ki Demung dari halaman rumah Ki Lurah Prajoto, bergegas idtri Lurah Prajoto, nyi Sumi menarik tangan Ayu Dyah Lastriti yang sedang mengintip dari balik dinding dari kuit bamboo itu untuk meninggalkan rumah melalui pintu belakang, mereka berlari tanpa henti menuju sebuah bukit yang tak jauh dari padukuhan sembil menggendong Panji Saka yang terus menangis sepanjang jalan. Beruntung Nyai Sumi hafal jalan setapak menuju bukit itu, meski tertatih-tatih dan beberapa kali Ayu Dyah Lastriti terpeleset karena licinnya jalan karena hujan deras semalam. sesampai mereka di atas bukit itu, ketika matahari mulai memperlihatkan dirinya.

“ Apa yang harus kita lakukan sekarang den Ayu ? “ berkata Nyi Sumi dengan menggendong Panji Saka yang tengah tertidur  dipelukannya

“ Aku sudah tidak punya apa – apa lagi, semua sudah hilang, Aku tak ingin lagi kembali ke sana karena hanya perih yang akan aku dapat….Aku akan ikut denganmu Den ayu, mengabdi padamu..” lanjut Nyi sumi istri ki Lurah Prajoto

“ Sabar nyai, aku bisa merasakan pedih yang kamu rasakan… Aku juga pernah mengalaminya sepekan yang lalu ketika Pademangan Ngambat di serang oleh prajurit Bintoro…” sahut perempuan yang lebih muda yang ternyata adalah Ayu Dyah Lastriti istri Demang Ngambat Panji Sodra

“ Aku akan tetap memenuhi permintaan kakang sodra untuk mengantar anakku ke padepokan Ki Ageng Pameling Jati…Aku akan menunggu disana meski Ki Ageng tak ada, karena aku yakin suatu ketika beliau pasti pulang…”

“ Aku akan ikut den Ayu. jika demikian… mohon kiranya Den Ayu mau menerima pengabdianku ini..” sahut Nyai Sumi

“ Baiklah aku terima pengabdianmu nyai… namun perlu kamu ketahui bahwa aku sudah tidak punya apa – apa , aku ingin tetap bertahan hidup semata – mata hanya karena anak ini “ jawab Dyah Lastriti

“ yang paling penting sekarang adalah kita harus segera berangkat menuju padepokan Ki Ageng, sebelum orang – orang bintoro kesana “

“ baiklah den ayu mari kita berangkat ke sana, mudah – mudahan sebelum tengah malam nanti kita sudah sampai “ Sahut Nyai Sumi sambil beranjak dari tempatnya berdiri

Advertisements

About dewa pujangga

mereka yang tidak merisokan apa-apa. tidak akan mampu melakukan apa-apa. dan tidak akan pernah menjadi apa-apa
This entry was posted in SERIAL PANJISAKA. Bookmark the permalink.