MAHAPRALAYA MEDANG eps 8

MAHAPRALAYA MEDANG

8

Sementara malam telah tiba,

Disebuah rumah yang terbilang cukup megah, terletak di tengah – tengah kotaraja, diantara bangunan – bangunan lain yang juga tak kalah bagusnya, terlihat beberapa bayangan berkelebat dengan gesit dan mengendap – ngendap masuk kedalamnya melalui pintu – pintu samping bangunan itu. Tak berapa lama setelah bayangan – bayangan itu masuk kedalam rumah, terlihat lampu – lampu yang tadinya menerangi rumah, tiba-tiba padam, hanya lampu – lampu ublik yang terbuat dari bambu kering di depan rumah saja yang masih tetap menyala.

Didalam rumah, diruang tengah yang cukup luas, terlihat seseorang berperawakan tinggi kurus tengah duduk diam tak bergerak bagai sebuah arca, jika orang tidak benar-benar memperhatikan kursi yang didudukinya, tentulah mengira orang itu tengah berdiri, karena dengan duduk saja, tingginya sudah seperti orang lumrah jika berdiri. Sedang didepannya ada meja panjang yang memisahkan posisinya dengan kursi-kursi lain yang sekarang tengah diduduki pula oleh empat orang yang semua berpakaian hitam –hitam.

“ Terimakasih kalian telah memenuhi undanganku” berkata orang yang tinggi kurus itu dengan raut wajah yang tak terlihat karena gelapnya ruangan.

“ Apakah kalian sudah mendengar kabar tentang siapa yang berada dibalik peristiwa di Bulak Sirah tempohari” tambahnya

“ Sampai saat ini aku belum dapat titik terang tentang siapa dibalik peristiwa itu kakang “ jawab salah seorang yang duduk di kursi paling pojok

“ Aku tadi sempat mampir ke dusun Wiyat, menurut beberapa penduduk disana, setelah kejadian terbakarnya rumah buyut Wiyat ada beberapa orang yang mengaku dari padepokan Cane datang ke sana, namun setelah beberapa saat mereka berbicara dengan Ki Buyut Wiyat, mereka pergi dan orang –orang di dusun itu tidak tahu kemana mereka perginya” berkata orang yang duduk di tengah

“ ah…. Benar, aku baru sadar sekarang. Ternyata mereka memang orang-orang dari Padepokan Cane, pantas aku seperti pernah mengenal jurus-jurus yang mereka mainkan, lantas bagaimana dengan pedati – pedati itu, apakah ada kabar beritanya?” Kata orang yang tinggi kurus yang disebut sebagai senopati itu.

”Sewaktu aku masih di desa Wiyat, beberapa orang penduduk yang kemarin malam berkumpul di rumah ki Buyut mengatakan bahwa kemarin sore dua pemuda dari padepokan cane itu tiba-tiba datang lagi dengan membawa sebuah pedati yang tadinya di bawa oleh para prajurit Wurawari, tapi kehadiran mereka didesa itu juga hanya sebentar, setelah bertemu dengan ki Buyut merekapun pergi membawa serta pedati itu lagi, yang menurut penduduk disana kedua orang dari padepokan Cane itu akan membawa pedati itu kekotaraja untuk diserahkan pada Mapatih ” tambah orang yang duduk ditengah tadi

”Berarti mereka benar-benar berhasil mencuri harta-harta milik kerajaan Wurawari, tapi mengapa pedatinya hanya satu? Bukankah jumlah pedati yang hilang ada tiga buah? ”

”Kalau itu aku tak tahu kakang, yang ku tahu dari mulut penduduk desa wiyat bahwa mereka hanya membawa satu buah pedati saja, sementara ketika aku pulang menuju kotaraja, di sebuah hutan kecil di pinggiran batas kotaraja ini aku menemukan bekas sebuah pedati yang telah terbakar hangus dengan seekor bangkai kerbau disisinya”

”Sungguh hebat mereka itu, berarti ada dua kemungkinan yang terjadi pada orang-orang Cane itu. Pertama mereka sengaja membakar pedati itu untuk menghilangkan jejak dan menyembunyikan harta yang berada di dalam pedati itu pada suatu tempat atau telah diberikannya pada Mapatih Tepu, sedang yang kedua mereka telah kena begal orang-orang tertentu hingga pedati lalu di bakar dan kerbau yang menariknya di bunuh” kata seseorang yanglain yang duduk di sisi orang yang berada di tengah

”Ya mungkin saja itu terjadi tapi mengingat kemampuan mereka dalam hal bela diri sepertinya kemungkinan kedua yang kau sampaikan tadi sangatlah tidak mungkin terjadi” kata senopati kurus itu menanggapi

”berarti kesimpulannya kalian semua tidak ada yang tahu dimana harta Wurawari itu sekarang berada” tambahnya

Semua diam tidak ada yang menjawab, mereka yang ditanya hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu tentang kabar harta Wurawari itu.

Senopati tinggi kurus itu kemudian menghela nafas panjang.

“Cukuplah untuk saat ini, meski hanya sedikit petunjuk mengenai kejadian di Bulak Sirah yang bisa kita dapat, kurasa itu sudah bisa menjadi titik terang untuk kita mengungkap siapa yang berada di balik peristiwa itu, namun ada hal yang lebih penting dan perlu perhatian khusus dari kalian semua karena hal ini menyangkut masa depan kita nantinya, oleh karena itu kalian aku kumpulkan disini sevara mendadak” lanjut senopati kurus itu

“ ini berkaitan dengan keberangkatan utusan dari Medang ke Bedahulu di bali besok pagi dan perjanjianku dengan orang Wurawari untuk menguasai kerajaan Medang, karena itu aku ingin berbagi tugas dengan kalian” tambahnya

”Segala cita-cita hidup lebih baik dan terhormat akan kalian dapatkan bila kita berhasil menjalankan tugas ini” lanjutnya sambil merataki wajah-wajah orang yang tengah duduk didepannya

“Untuk melakukan tugas itu kalian akan tetap memakai nama – nama sandi yang telah ku berikan tempo hari, kalian mengerti “

Tandya “ jawab mereka berempat serempak

“ Kau Emprit Tani, ku tugaskan ikut dalam rombongan Maha Wadana, berangkat ke Bedahulu. karena kau masih menjadi bagian dari pasukannya. hanya saja kau harus berusaha untuk bisa ikut masuk dalam rombongan yang akan berangkat ke Bedahulu sebab aku yakin Maha Wadana pasti hanya menyertakan beberapa orang pasukannya saja. Beri aku kabar dengan menggunakan sandi – sandi seperti biasanya, kau paham” kata senopati tinggi kurus itu

“tandya kakang senopati” jawab orang yang bernama sandi Emprit Tani

“Berangkatlah sekarang juga” tambah senopati kurus itu.

Tanpa menunggu perintah selanjutnya orang yang bernama sandi Emprit Tani itu langsung beranjak dari tempat duduknya lalu meloncat dari jendela rumah dan hilang ditelan kegelapan

“kau Jalak suta, ku tugaskan memata-matai istana kepatihan bergabunglah seperti biasa di barisan prajurit kepatihan, sedang kau jalak uren, tugasmu tetap berada di istana raja”

“ Tandya kakang senopati “ jawab kedua orang itu lalu bergegas meninggalkan ruang itu seperti Emprit Tani tadi.

Setelah dalam ruangan itu hanya tinggal senopati kurus itu dan salah seorang pembantunya. Senopati kurus itu beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil beberapa ikat lontar dari balik bajunya.

“Kau Emprit kuning, berangkatlah ke Lwaram sampaikan pesanku ini pada patih Malengapati. Ingat jangan sekali – kali kau berani membuka ikatan lontar ini dan jangan sampai isi dalam ikatan lontar ini terbaca oleh siapapun sebab jika sampai di ketahui oleh orang lain maka kita semua akan tumpes pati

”Setelah kau sampaikan lontar ini pada patih Malengapati, bergegaslah menuju dusun Cane, cari kabar tentang keberadaan harta milik orang – orang Wurawari itu, serta pastikan siapa orang – orang padepokan Cane  yang telah berani kurang ajar melakukan pencurian di Bulak Sirah tempohari namun sebelum kau ke Cane, cegatlah utusan medang yang berangkat ke Lwaram yang menyampaikan teguran bagi raja Aji Wurawari atas peristiwa di dusun Wiyat  tempo hari. Kalau perlu bunuh utusan itu. Kau paham Emprit Kuning? “ kata senopati kurus  pada pembantunya Emprit Kuning.

“ Aku Paham Kakang, dan aku mohon diri sekarang “ jawab Emprit Kuning kemudian mengulangi perbuatan rekan-rekan yang telah mendahuluinya tadi menghilang di balik kegelapan malam.

“ hemm. Ternyata orang – orang padepokan Cane yang melakukannya, suatu saat akan kuhancurkan padepokan itu hingga tak bersisa walau abu sekalipun” Gumam senopati yang tinggi kurus itu.

Kemudian setelah berdiam sejenak memastikan semuanya aman dan dalam kendalinya, diapun lalu beranjak meninggalkan ruang itu seperti pula para pembantunya tadi.

Sementara itu di rumah Kanuruhan Panji Tuluh, terlihat kesibukan menyiapkan kepergiannya besok pagi yang dilakukan oleh para prajurit maupun parujar – ujarnya. Sedang di pendopo rumah Kanuruhan Panji Tuluh terlihat senopati Maha Wadana sedang berbincang – bincang dengan mpu Kanwa. Mereka memang sudah bersahabat sejak lama, sejak Senopati Maha Wadana menjadi seorang lurah prajurit hingga sekarang telah menyandang pangkat seorang senopati persahabatan itu masih tetap mereka jaga bahkan terasa semakin erat saja. Mereka begitu gembira karena akan melakukan perjalanan bersama.

Selama ini Maha Wadana hanya mendengar cerita dari Kanwa tentang beragamnya budaya – budaya di daerah lain, dan baru sekarang keinginannya untuk melakukan perjalanan bersama dengan sahabatnya ini terlaksana meskipun di balut dengan sebuah tugas yang tentu tidaklah mudah dilakukan, namun semua itu tak mengurangi rasa gembiranya.

Disaat mereka sedang ber cakap – cakap, terdengar derap kaki kuda memasuki halaman pendopo rumah Kanuruhan Panji Tuluh. Maha Wadana bangkit dari duduknya, lalu meyambut orang yang baru datang itu dengan tersenyum gembira

“ ha…ha.. kau datang juga Brangjangan, apakah kau akan memberi sedikit kecupan untuk menghantar kepergianku besok pagi” canda Maha Wadana sambil mengulurkan tangannya merangkul orang yang baru datang itu yang ternyata adalah Senopati Brangjangan pimpinan telik sandi Kerajaan Medang

“ hemmm…hemmm sepertinya kau begitu gembira akan menempuh perjalanan besok, Wadana” berkata pula Brangjangan yang langsung mengarahkan jalannya menuju tempat maha Wadana dan mpu Kanwa tadi berada

“ tentu…tentu aku gembira, apa yang mesti aku khawatirkan teman, lihatlah kerajaan Medang begitu aman Sentosa, sudah tidak ada lagi peperangan, yang ada nanti aku hanya akan menikmati pemandangan yang begitu indah selama perjalanan, ditambah lagi menurut Kanwa bahwa di pulau yang dikenal sebagai pulau dewata dimana kerajaan Bedahulu berada itu  terdapat begitu banyak daerah yang sangat menawan untuk dinikmati, bukankah begitu Kanwa” jawab Maha Wadana  sambil melirik pada Kanwa yang hanya tersenyum melihat kegembiraan sahabatnya.

Seperti juga dengan Maha Wadana persahabatan Kanwa dengan Brangjangan pun telah terjalin cukup lama sehingga diantara mereka bertiga sudah tidak ada basa basi lagi. Namun terhadap Brangjangan, Kanwa tetaplah sedikit menjaga jarak, entahlah karena apa, dia sendiri tak tahu jawabannya. Mungkin karena jabatan Brangjangan sebagai pimpinan teliksandi yang membuat Kanwa selalu berhati – hati.

“ ha..ha..ha.. kau ini ada-ada saja wadana, namun kau mesti tetap waspada dan berhati-hati mengingat masih banyak musuh yang diam-diam tak suka dengan Kerajaan Medang” kata Brangjangan kemudian

“ ya…ya… tuan senopati, aku akan selalu memperhatikan nasehatmu” seloroh Maha Wadana sambil menjura pada sahabatnya itu dengan menyeringai lebar-lebar.

“ berapa orang yang akan kau bawa wadana?” Tanya Brangjangan setelah mereka kembali duduk di pendopo Kanuruhan

“ Kanuruhan hanya minta seratus orang pilihan untuk mengantarnya” jawab Maha Wadana

“Apakah Lurah parepet, lurah wingsu dan gembor akan kau ajak pula” Tanya Brangjangan kembali

“ Tentu, tentu mereka akan ku bawa, karena mereka cukup bisa diandalkan, juga beberapa lurah prajurit yang lain akan ikut menyertaiku pula sedang para prajurit yang tidak ikut akan aku gabungkan sementara waktu dengan pasukan Senopati Danasura yang selalu berada di kotaraja seperti perintah paman Kanuruhan, apakah kau ada usul lurah prajurit lain untuk ku bawa serta” jawab maha wadana

“ ah.. tidak. aku pikir cukuplah mereka yang kau bawa. Aku hanya memastikan agar kau tidak meremehkan tugas ini “ kata Brangjangan sambil tersenyum pada sahabatnya itu.

Namun dimata Kanwa lain pula yang dilihat dari senyum itu, diam – diam dia mencatat nama-nama prajurit yang disebut oleh Brangjangan tadi dalam hatinya.

Advertisements

About dewa pujangga

mereka yang tidak merisokan apa-apa. tidak akan mampu melakukan apa-apa. dan tidak akan pernah menjadi apa-apa
This entry was posted in AIRLANGGA. Bookmark the permalink.